English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Jika niat sudah terpancang karena Allah, tidak akan ada halangan yang bisa menghentikan seseorang melakukan sesuatu. Niat karena Allah ialah motivator yang utama dan seharusnya menjadi satu-satunya motivator kita.

Rabu, 15 Juli 2009

GANGGANG

Bacillariophyceae atau diatom terdapat lebih dari 250 marga dan sekitar 100.000 spesies. Diatom merupakan mikroflora utama di lingkungan yamg cukup sinar matahari untuk mempertahankan aktivitas. Diatom selain bersifat kosmopolit juga memiliki laju pertumbuhan yang tinggi. Sebagi misal pada perairan yang subur dan tidak tercemar kepadatan populasinya dapat mencapai 2.000-10.000 sel per liter air.
Diatom mempunyai kelimpahan yang tinggi dan dapat ditemukan di berbagai habitat misalnya tanah basah, dinding batu, karang terjal, gambut dan kulit kayu. Juga dapat dilihat sebagai buih kuning di atas lumpur pada selokan atau kolam. Berdasarkan cara hidupnya diatom dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu diatom bentos dan diatom plankton
Diatom bentos pada umumnya hidup bercampur dengan lumpur atau menempel pada substrat di dasar perairan, misalnya Cymbella, Gomphonema, Cocconeis, dan Eunotia. Diatom plankton biasanya hidup melayang-layang bebas di perairan, baik air tawar maupun air laut. Di air tawar diatom dapat ditemukan di sungai, danau, kolam, rawa-rawa, dan ada juga yang bisa ditemukan di perairan yang suhunya mencapai 45 0C. Beberapa diatom hidup sebagai epifit pada alga lain atau tanaman air.

Air merupakan hal yang penting untuk pertumbuhan dan peerkembangan, serta diperlukan pada berbagai macam proses kehidupan diatom. Bila tidak ada air, diatom tidak akan mampu bertahan hidup lebih lama dalam keadaan aktif. Selain keberadaan air, ada beberapa faktor lingkungan yang turut berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan diatom. Faktor-faktor tersebut adalah cahaya, suhu, dan kandungan senyawa organik.
Cahaya termasuk faktor penting yang ikut menentukan pertumbuhan dan perkembangan diatom. Cahaya merupakan faktor esensial untuk fotosintesisi. Diatom ada yang tidak peka terhadap intensitas cahaya. Namun ada juga yag dalam proses metabolismenya memerlukan intensitas cahaya tertentu. Untuk itu diperlukan cahaya yang sesuaai agar proses tersebut bisa berjalan dengan baik.
Suhu habitat merupakan faktor yang mempengaruhi keberadaan diatom dalam habitat. Tiap marga diatom memliki suhu optimum yang berbeda-beda. Marga tertentu memerlukan suhu dengan kisaran tertentu pula untuk proses metabolisme yang normal. Di atas dan di bawah kisaran suhu optimum tersebut proses metabolisme tidak akan berlangsung dengan normal atau bahkan akan mengalami kematian.
Faktor ketiga yag berpegaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan diatom adalah kandungan senyawa organik perairan. Jumlah senyawa organik yang terlarut dalam perairan berpengaruh terhadap tingkat keasaman dan kebasaan. Beberapa anggota diatom memerlukan pH di bawah 7,00 dan kandungan kalsium (Ca) serta magnesium (Mg) yang rendah, misalnya Eunotia dan Frustulia. Genus yang lain justru sebaliknya, menghindari air yang mengandung asam dan konsentrasi kalsium dam magnesium yang sangat rendah, seperti Mastogoia, Diploneis, Amphipleura, Gysigma, Denticula, Ephitemia, dan Rhopalopoada. Perubahan sedikit pada nilai pH dan senyawa organik perairan akan mempengaruhi keberadaan diatom dalam perairan tersebut. Senyawa organik bagi diatom berguna dalam pembentukan frustul, seperti sulfur dan kalsium.
Perana diatom sangat penting dalam ekosistem perairan karena merupakan produsen dalam rantai makanan yakni sebagai penghasil bahan organik dan oksigen. Pada ekosistem air tawar, diatom mengambil alih peran flora lain khususnya Cyanophyta dan Chlorophyta.
Apabila tumbuhan renik ini mati, maka jatuh ke dasar laut, dan karena mengandung silika, dinding selnya tidak akan hancur dan tetap lestari. Endapan besar bahan ini, yang dikenal dengan tanah diatom, dijumpai di banyak bagian permukaan bumi ini. Di tanah Amerika serikat, kumpulan yang terbesar setebal 1.400 kaki (atau lebih dari lima puluh meter) terdapat di California.
Karena tanah diatom ini secara kimiawi lembam dan memiliki sifat-sifat fisika yang luar biasa, maka zat itu amat penting dan bernilai bagi industri. Misalnya digunakan untuk bahan penyarigan, yang secara luas digunakan untuk memisahkan zat berwarna dari produk-produk seperti bensin dan gula. Karena bukan penghantar panas yang baik, maka tanah diatom ini digunakan dalam pipa pemanas dan pipa uap. Juga karena menyerap bunyi, bahan itu digunakan dalam alat pengedap suara. Selain itu dimanfaatkan dalam pembuatan cat, pernis, piringan hitam, dan wadah untuk kotak baterai. Karena kerasnya, juga dipakai dalam bahan peelicin dan bahan pengampelas.
Susunan Tubuh diatom , gimana ya..?
Susunan tubuh diatom biasanya uniseluler dan mikroskopis. Walaupun diantaranya ada yang berbentuk koloni. Struktur selnya berbeda dengan jenis alga yang lain. Bentuk sel diatom sangat bermacam-macam dengan bentuk dasar bilateral simetris (Pennales) dan radial (Centrales). Beberapa tampak seperti perahu, sedang yang lain seperti balok, cakram atau segitiga.
Koloni dari diatom bentuknya bermacam-macam, ada yang seperti benang, misal Chaetocceros dan Melusina; seperti batang, misal Tabellaria dan Asterionella. Sel-sel ada yang mempunyai tanduk (horn) atau duri (spina) pada ujung-ujungnya. Tanduk-tanduk duri ini berfungsi dalam pembentukan koloni. Sedangkan sel yang tidak memiliki keduanya, koloni terbentuk melalui penggabungan antar sel dengan bantuan bantalan gelatin.
Bentuk koloni antara jenis yang hidup di air laut dengan yang hidup di air tawar berbeda. Jenis yang hidup di air laut, koloni tersusun di dalam substansi gelatin, atau sel-sel terletak bebas dalam substansi gelatin yang amorf. Jenis yang hidup di air tawar, koloni tersusun secara bersambungan antara permukaan sel yang satu dengan permukaan sel yang lain sebagai penghubung substansi gelatin. Gelatin makin menutup seluruh permukaan sel dan mungkin juga hanya terbatas pada bulatan kecil pada salah satu ujung dari masing-masing sel, misalnya pada Terpsinoe.
berikut beberapa gambar diatome:

Diatom dapat bergerak ???
Walaupun semua anggota kelas Baccillariophyceae tidak memiliki alat gerak yang khusus, bukan berarti semua anggota kelas Baccillariophyceae tidak dapat bergerak. Diatom pennate bergerak secara spontan. Bold & Wynne (1980:465) menjelaskan bahwa pergerakan terjadi karena, pertama adanya sekresi rantai mukopolisakarida. Zat ini dikeluarkan secara terus-menerus sehingga menyebabkan sel bergerak, dan mampu pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kedua, adanya mekanisme kapilaritas yang menimbulkan gerakan perlahan-lahan dari partikel-partikel di sepanjang rafe. Ketiga, pergerakan diatom berkaitan erat dengan aliran sitoplasma dalam sel dan keberadaan rafe pada dinding sel.
Menurut teori pergerakan siklolisis sitoplasma, ada aliran sitoplasma dari bintil depan (nodus anterior) menuju bintil belakang (nodus posterior). Mulai dari celah kutub belahan luar, aliran bergerak mundur sepanjang permukaan luar (outer face) dari rafe dan mencapai daerah sekitar bintil pusat (central nodule). Gerakan ini arahnya tegak menembus dinding katub melalui saluran vertikal anterior. Bersamaan dengan aliran tersebut terdapat aliran yang naik dari sitoplasma pada saluran vertikal posterior dari bintil pusat dan aliran ini bergerak mundur sepanjang belahan luar sampai celah kutub pada bintil kutub posterior. Pada belahan dalam anterior dan belahan dalam posterior terdapat pergantian gerakan aliran sitoplasma yang arahnya berlawanan dengan yang ada pada belahan luar. Jadi dengan adanya mekanisme aliran siklolisis sitoplasma tersebut menghasilkan perpindahan sel dari satu tempat ke tempat lain.
anggang coklat ???
11 05 2009
Main-main ke pantai sambil menikmati es krim coklat, pasti enak sekali. Namun, sering ketika kita ke pantai, menjumpai tumbuhan mirip rumput, ada juga yang mirip dedaunan panjang tapi warnanya coklat dan hidup di pantai yang basah. itulah ganggang coklat atau Phaeophyta.
Ciri-cirinya
Phaeophyta, atau ganggang coklat, biasanya dicirikan oleh tiga sifat yaitu: (1) Adanya pigmen coklat, yaitu fukoxantin, yang menutupi warna hijau pigmen fotosintesisnya, klorofil a dan c; (2) Hasil fotosintesis terhimpun dalam bentuk laminarin (diberi nama menurut marga Laminaria); dan (3) Adanya sebuah flagel cambuk dan pada gamet jantan berflagel dua, satu-satunya bagian yang dapat bergerak dalam daur hidupnya, flagel-flagel itu keluar dari sisi sel.

Sedangkan susunan tubuhnya….
Pada umumnya Phaeophyceae memiliki tingkat labih tinggi secara morfologi dan anatomi diferensiasinya dibandingkan keseluruhan alga. Tidak ada bentuk yang berupa sel tunggal atau koloni (filamen tidak bercabang). Susunan tubuh yang paling sederhana adalah filamen heterotrikus. Struktur talus yang paling kompleks dapat dijumpai pada alga pirang yang tergolong kelompok (Nereocystis, Makrocystis, Sargassum). Pada alga terdapat diferensiasi eksternal yang dapat dibandingkan dengan tumbuhan berpembuluh. Talus pada alga ini mempunyai pelekat menyerupai akar., dan dari alat pelekat ini tumbuh bagian yang tegak dengan bentuk sederhana atau bercabang seperti pohon dengan cabang yang menyerupai daun dengan gelembung udara.
1. Walaupun ganggang coklat ini mempunyai organisasi badaniyah yang lebih kompleks daripada ganggang lain, tetapi tumbuhan ini bukan merupakan tumbuhan yang telah berhasil berkolonisasi pada lahan kering. Alasan kesimpulan ini ialah bahwa kombinasi pigmen-pigmen fotosintesis, sifat cadangan karbohidratnya dan pembentukan flagel pada tahap-tahap perkembangbiakannya berbeda dengan yang dijumpai pada kelompok tumbuhan darat manapun.(Loveless, 1989)
Laminaria
Ectocarpus,

Sargassum
Habitat
Phaeophyceae pada umumnya hidup dilaut, hanya beberapa jenis saja yang hidup di air tawar dan anggota-anggotanya berkisar dari yang berfilamen bercabang sederhana sampai gulma laut yang kompleks, seperti Sargassum, yang kerumitan organisasinya melebihi ganggang-ganggang lain, dan tentu saja melebihi juga banyak tumbuhan darat.
Sebagian besar Phaeophyceae merupakan unsur utama yang menyusun vegetasi alga di lautan Arktik dan Antartika, tetapi beberapa marga sepeti Dictyota, Sargassum, dan Turbinaria merupakan alga yang khas untuk lautan daerah tropis.
Perkembangbiakan
Reproduksi dapat dilakukan secara vegetatif, sporik, dan gametik.
1. Reproduksi Vegetatif
Reproduksi vegetatif umumya dilakukan dengan fragmentasi talus.
1. Reproduksi Sporik
Semua anggota dari Phaeophyceae kecuali anggota dari bangsa fucales melakukan reproduksi secara sporik dengan zoospora atau aplanospora yang masing-masing tidak berdinding. Zoospora dibentuk dalam sporangium bersel tunggal (unilokular) atau bersel banyak (Plurilokular).
Perkembangan dari sporangia yang unilokular dimulai dengan membesarnya sel terminal dari cabang yang pendek. Pada sporangia terdapat inti tunggal yang mengalami pembelahan meiosis diikuti dengan pembelahan mitosis. Ketika pembelahan inti berhenti, terjadilah celah yang membagi protoplas menjadi protoplas berinti tunggal. Masing-masing protoplas mengalami meteamorfose menjadi zoospora. Alat reproduksi yang plurilokular juga terbentuk dari sel terminal dari cabangnya. Sel ini mengadakan pembelahan tranversal berulang-ulang sehingga terbentuk sederetan sel yang terdiri dari 6-12 sel. Pembelahan sel secara vertikal dimulai dari sel yang letaknya di tengah.
1. Reproduksi Gametik
Reproduksi gametik dilakukan secara isogami, anisogami, dan oogami. Gamet biasanya dibentuk dalam gametamia yang prolikuler atau yang unilokuler pada gametofit. Zigot yang terbentuk tidak mengalami masa istirahat dan langsung membentuk sporofit setelah lepas dari gametofit. Pada beberapa bangsa seperti laminariales reproduksinya secara oogami. Anteredium bersifat prolikuler misalnya pada Dictyota dan unilokuler pada Laminaria. Pada phaeophyceae terdapat tiga tipe daur hidup:
1. Tipe isomorfik, fase sporofit dan ganetofit morfologinya identik
2. Tipe heteroorfik, sporofit dan gametofit morfologinya berbeda
3. Tipe diplontik
Daur Hidup
Pada Phaeophyceae terdapat tiga tipe daur hidup:
Tipe Isomorfik
Pada tipe ini gametofit dan sporofit mempunyai bentuk dan ukuran yang relative sama satu samalain.
Contoh: Ectocarpales, Dictyotales.
Ectocarpales mempunyai pergantian keturuan yang isomorf dan mempunyai tubuh yang berbentuk filament yang bercabang membentuk jaringan pseudoparenkimatik. Sporofit mengeluarkan zoospora dan dan spora netral, sedang gametofit membentuk gamet yang isogami dan anisogami.
Daur hidup Ectocarpus, menurut Sabithah (1999) adalah sebagai berikut:

Tipe Heteromorfik
Pada tipe ini, sporofit berkembang dengan baik dan berukuran makroskopik, sedang gametofitnya berukuran mikroskopik. Berbentuk filamen yang hanya terdiri dari beberapa sel saja. Misalnya, anggota yang tergolong dalam bangsa laminariales.
Anggota dari bangsa laminariales mempunyai pergantian keturunan yang heteromorfik dengan sporofit yang selalu lebih besar dari pada gametofitnya yang ukurannya selalu mikroskopik. Dari marga ke marga gametofik ini identik satu sama lainnya, sehingga yang tampak di lapangan adalah sporofitnya. Pengetahuan yang menyangkut gametofik dari ganggang ini diperoleh dengan menggunakan kultur yang dimulai dari zoospora yang dikeluarkan oleh sporanya yang unilokular.
Pada umumnya merupakan jenis yang tahunan. Sporofit terbagi menjadi alat pelekat, tangkai dan helaian. Alat pelekat umumnya merupakan cabang-cabang yang dikotom, disebut haptera. Tangkai tidak bertangkai, silindris atau agak memipih, di ujung tangkai ini terdapat helaian yang utuh atau terbagi vertikal menjadi beberapa segmen. Tangkai terdiri dari medulla (bagian tengah) dan korteks (bagian tepi) dikelilingi selapis sel menyerupai epidermis.
Sporofit mempunyai sporangia yang unilokular dan terdapat pada beberapa helaian. Sporangia berbentuk gada. Inti dari sporangia muda mula-mula membelah secara meiosis (reduksi) yang diikuti oleh pembelahan mitosis sampai terbentuk 32-64 inti. Protoplas terbagi menjadi protoplas yang masing-masing berinti tunggal dan mengadakan metamorphose menjadi zoospora. Setelah berenang beberapa lama zoospora membulat membentuk dinding dan kemudian membentuk buluh kecambah serta tumbuh menjadi gametofit yang berbentuk filamen yang terdiri dari beberapa sel. Pada Laminaria saccharina, penentuan jenis kelamin gametofit terjadi pada saat terjadi pembelahan reduksi, separuh dari zoospora membentuk gametofit jantan, sedang separuhnya lagi membentuk gametofit betina. Gametofit jantan dan betina, keduanya membentuk alat kelamin setelah gametofit mencapai panjang 2-3 sel. Terjadinya pembuahan tergantung pada suhu. Gametofit membentuk banyak sekali anteredia pada ujung cabang-cabangnya. Masing-masing anteredium hanya terdiri dari satu sel, protoplasnya hanya akan membentuk lanterozoid. Oogonium hanya akan membentuk satu sel telur. Sel telur menonjol keluar, tetapi tetap melekat pada lubang di ujung dinding oogonium. Anterozoid berenang menuju sel telur dan bersatu lalu diikuti dengan persatuan inti. Dari zigot yang terbentuk, akan tumbuh menjadi sporofit yang diploid. Bentuk dari sporofit sangat berbeda dengan gametofitnya.
Tipe Diplontik
Tipe ini tidak menunjukkan adanya pergantian keturunan. Siklus hidupnya bersifat diplontik. Fase haploid hanya terdapat pada gametnya. Comtoh: Fucales.
Di antara jenis-jenis Phaeophyceae, golongan Fucales ini adalah unik, karena tidak mempunyai keturunan yang membentuk spora. Disini hanya ada satu keturunan yaitu tubuh yang diploid, dengan demikian tidak mempunyai pergantian keturunan. Meiosis terjadi sebelum gametogenesis, jadi yang bersifat haploid hanya gametnya. Adapula yang menganggap keturunan yang diploid tadi sebagai sporofit dan spora yang dihasilkan sporangianya akan berfungsi sebagi gamet. Gamet jantan (anterozoid) berflagela dua buah yang letaknya di bagian lateral. Gamet dibentuk dalam anteredium, gamet betina berupa sel telur yang dibentuk dalam oogonium. Jadi perkembangbiakannya secara oogami. Anteredium atau oogonium dibentuk dalam konsep takel. Pada umunya terkumpul dalam satu cabang yang menggelembung, cabang-cabang ini disebut reseptakel.
Bangsa ini terdiri dari tiga suku; yaitu Fucaeae, Cystoseiraceae, dan Sargasseaceae.
Sebelum terjadi pembuahan, banyak anterozoid mengelilingi sel telur. Pada ganggang ini terbentuk 8 sel telur. Biasanya hanya satu anterozoid yang masuk ke dalam sel telur. Dalam waktu satu jam kedua inti melebur dan terjadilah inti yang diploid. Zigot segera membentuk dinding yang berlendir dan dapat melekat pada substrat. Zigot kemudian membentuk tonjolan yang akan menjadi rizoid, hingga menunjukkan adanya polaritas. Faktor luar sepeti cahaya, temperatur, PH, dan adanya zat pengatur di dalam sel telur merupakan faktor perangsang bagi terjadinya polaritas. Karena adanya cadangan makanan yang cukup di dalam sel telur, maka mula-mula pertumbuhan embrio cepat, tetapi pertumbuhan menjadi lambat karena tergantung pada fotosintesa. Tubuh yang terbentuk bersifat diploid dan pembelahan reduksi terjadi waktu gametogenesis. Jadi daur hidupnya bersifat diplontik.
semoga bermanfaat….
Untuk informasi materi materi biologi silahkan kunjungi http:// www.wawasankita.blog.com/biologi

Writen by Arief Hidayat, S.Pd.

0 komentar:

Posting Komentar

perhatian

1. beri komentar dengan sopan dan berkelakuan baik

2. tidak spam, tidak barang rombengan, tidak sampah

3. gunakan kata kata objektif dan mudah dimengerti

4. jangan lupa like halaman facebooknya /b>

terima kasih telah mengosongkan waktu untuk melihat artikel diblog ini. semoga apa yang dipostingkan disini dapat berguna bagi kita semuanya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international voip calls